Tradisi Ya Qawiyyu Di Klaten Sebar Puluhan Ribu Apem

Jumat, 18 Oktober 2019 : 22.35
TERASWISATA - Tradisi Ya Qawiyyu Sebaran Apem Jatinom Klaten yang sudah berusia ratusan tahun tetap dilestarikan hingga saat ini. 

Sebaran Apem tahun ini, sebanyak tujuh ton apem dibagikan ke masyarakat dalam puncak acara Ya Qawiyyu Sebaran Kue Apem. Puluhan ribu masyarakat dari penjuru Klaten berebut kue tradisional yang disebar di pelataran Sendang Plampeyan itu. 

"Dibanding tahun lalu ini lebih meriah animo masyarakat makin tinggi dan juga apemnya makin banyak," ungkap Ganjar Pranowo.

Ganjar berharap acara yang luar biasa ini akan semakin menarik minat bukan hanya warga Klaten namun dari berbagai daerah. Terlebih selain mengikuti rangkaian acara Saparan Jatinom, masyarakat juga bisa ziarah ke makam Kiai Ageng Gribig, yang letaknya di samping area Madjid Gedhe.

"Ini tradisi unik yang sudah berjalan selama empat abad lamanya. Betapa indahnya acara ini, karena semua berkumpul dan melestarikan tradisi peninggalan leluhur sampai sekarang," kata Ganjar.

Sebaran kue apem ini merupakan rangkaian acara Saparan di Jatinom. Tradisi tahunan yang jadi magnet untuk pulang bagi warga Klaten, Jatinom khususnya yang tengah merantau. 

Acara berawal dari Masjid Ageng Jatinom tempat gunungan apem disemayamkan selama semalam. Usai salat Jumat, barulah gunungan apem Lanang dan Wadon diboyong menuju ke pelataran Sendang Plampeyan.

Ketua Panitia, Ebta Tri Cahya menjelaskan tahun ini selama satu minggu rangkaian acara digelar. Dari 18 Oktober pembukaan Perayaan Yaaqowiyyu, karnaval budaya, parade Drumband, Gejog Lesung, Jathilan, Kirab Gunungan Apem, malam Midodaren dan puncak acara Yaa-Qowiyyu Sebaran Kue Apem.

Tradisi Ya Qawiyyu, kata Ebta merupakan upaya masyarakat Jatinom untuk mengamalkan ajaran Kiai Ageng Gribig soal bersyukur dan persaudaraan. Konon, tradisi Saparan itu berawal saat Kiai Ageng Gribig hendak membagikan 3 buah penganan dari Mekah.


"Sayangnya saat akan dibagikan kepada penduduk, jumlahnya tak memadai, bersama sang istri iapun membuat kue sejenis. Kue-kue inilah yang kemudian disebarkan kepada penduduk setempat yang berebutan mendapatkannya sambil menyebarkan kue-kue ini iapun meneriakkan kata “yaqowiyyu”," katanya. (Ika/Uut)

Saat ini 0 komentar :