Tiga Lokasi Wisata Religi Karanganyar, Dari Makam Sambernyawa Hingga Makam Soeharto

Selasa, 19 Juni 2018 : 23.46
Gapura Masuk Kabupaten Karanganyar
Teraswisata - Pegunungan lereng Lawu memiliki suasana yang asri dan udara yang sejuk. Tak heran jika wilayah tersebut dipilih untuk menjadi lokasi peristirahatan terakhir banyak tokoh. Seperti raja -raja trah Mangkuegoro, dimana Mangkunegoro I - III dimakamkan di Astana Mangadeg.

Sedangkan Mangkunegoro IV, V, VII, dan VIII. Khusus Mangkoenegoro VI dimakamkan Astana Oetara Solo, Jawa Tengah. Termasuk juga makam dari presiden kedua RI, Soeharto dan keluarganya.

Tugu Tri Darma Astana Mangadeg
1. Astana Mangadeg
Astana Mangadeg berada pada ketinggian 750 meter di atas permukaan laut. Terletak di Desa Karang Bangun Kecamatan Matesih. Di lokasi ini, Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya Mangkunegara I alias Pangeran Sambernyawa alias Raden Mas Said dimakamkan.

Bangunan Astana Mangadeg saat ini terdiri dari tiga komplek bangunan, yaitu komplek makam Mangkunegaran I berserta keturunannya, Komlek makam keturunan Mangkunegaran II dan III, dan komplek makam dari beberapa keturunan yang lain. Astana Mangadeg berada pada ketinggian 750 meter di atas permukaan laut.

Sebelum masuk ke kompleks pemakaman, pengunjung harus mendaftarkan diri di kantor pengelola di pintu pertama yang berada di atas area parkir.

Gapura Masuk Makam Pangeran Sambernyawa
Petugas akan mencatat nama identitas pengunjung. Disana disediakan kotak amal, besarnya sukarela. Setelah mendapatkan 'surat ijin', baru pengunjung diperbolehkan naik ke atas bukit. Pengunjung harus melewati anak tangga keatas menuju makam.

Namun jangan khawatir sepanjang perjalanan viewnya sangat indah. Bisa melihat wisata Tawangmangu dan Kota Solo. Pengunjung perempuan diwajibkan mengenakan jarik, sedangkan yang pria bebas tapi sopan.

Komplek Astana Girilayu
Makam Pangeran Sambernyowo berada di sisi paling kiri. Makamnya diselimuti dengan lembaran kain berwarna putih. Di ruang lainnya juga terdapat makam istri beliau termasuk juga kerabat kraton hingga abdi dalem sesuai dengan pangkatnya.

Di sekitar lokasi makam juga didirikan tugu Tri Dharma sebagai tanda tempat dulunya Pangeran Sambernyawa bertapa untuk mencari petunjuk pada Sang Pencipta.

Astana Girilayu
2. Astana Girilayu
Keberadaan Astana Girilayu konon mulai dibangun sejak tahun 1881. Dan salah satu makam di sana yang dibangun dengan sangat megah adalah makam Mangkoenogoro IV. Seperti diketahui di era pemerintahan Mangkoenogoro IV, Kraton Mangkunegaran mengalami kemajuan yang pesat salah satunya di bidang ekonomi.

Tak heran saat beliau wafat, makamnya dibangun sedemikian rupa agar terlihat megah dan juga indah. Sebagian besar material didatangkan langsung dari Belanda, seperti baja untuk pintu dan jendela juga marmer berkualitas tinggi.

Hingga saat ini, Astana Girilayu masih ramai dikunjungi warga. Untuk bisa masuk ke dalam makam raja-raja Mangkoenegaran ini, harus mengikuti aturan yang berlaku. Seperti untuk para wanita harus menggunakan kain jarik yang sudah disediakan pengelola makam Astana Girilayu.

3. Astana Giribangun
Di sinilah menjadi pilihan mantan presiden Soeharto untuk lokasi peristirahatan terakhirnya, di lereng gunung Lawu. Berada pada ketinggian 660 meter di atas permukaan laut, tepatnya di Desa Girilayu, Kecamatan Matesih.

Di atas komplek Astana Giribangun, terdapat Astana Mangadeg, komplek pemakaman para penguasa Mangkunegaran. Selain presiden RI kedua yang dimakamkan di Astana Giribangun, sebelumnya sang istri yakni Ibu Tien Soeharto bersama kedua orang tuanya terlebih dahulu dimakamkan di astana Giribangun.

Komplek makam ini memiliki tiga tingkatan bangunan makam. Paling tinggi adalah cungkup Argo Sari, terletak di bagian tengah berbentuk rumah bentuk joglo gaya Solo beratap sirap dan berdinding kayu ukir khas Solo.

Hanya ada 5 makam yakni Soeharto, Ibu Tien, ayah dan ibu serta kakak dari ibu Tien. Selanjutnya di bagian bawahnya adalah cungkup Argo Kembang, dan paling bawah adalah cungkup Argo Tuwuh. (Dian)

Saat ini 0 komentar :