Tradisi Ruwatan Murwokolo, Doakan Indonesia Aman Sejahtera, Gemah Ripah Lohjinawi

Sabtu, 05 Oktober 2019 : 17.53
TERASWISATA - Puluhan masyarakat mengikuti ruwatan murwokolo masal yang digelar petilasan Keraton Pajang, Kartasura, Sukoharjo, Jumat (20/9). Ini sebagai upaya agar masyarakat lepas dari sengkolo atau kesialan dan diberi keselamatan dalam kehidupan sehari-hari.

Keterangan dari Raden Dimas Kaca, Penasehat Budaya Kasultanan Pajang ada sekitar 30 warga dari berbagai daerah di Jawa Tengah dan Yogyakarta yang di bulan Suro ini mengikuti acara ruwatan yang mengambil lokasi di petilasan Kraton Pajang. Yang merupakan cikal bakal Kraton Solo dan Yogyakarta.

"Acara ruwatan yang digelar Jumat kemarin ada diikuti 30 peserta dari Jawa Tengah dan Yogjakarta," paparnya, Sabtu (21/9/2019).

Selain acara ruwatan juga digelar acara sedekah bumi berupa tumpeng yang terbuat dari susunan sayuran hasil panen masyarakat. Sebagai bentuk rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas limpahan hasil panen yang melimpah.

"Ruwatan  murwokolo ini juga diwarnai acara sedekah bumi sebagia simbol rasa syukur masyarakat yang nanti akan  diperebutkan di puncak acara," imbuhnya.

Sementara itu Sekretaris Paguyupan Palenggahan Kasultanan Pajang, Slamet Riyadi, mengatakan jika ruwatan itu salah satu kegiatan yang digelar selama bulan suro. Ruwatan ini bagi masyarakat dan mendoakan agar bangsa Indonesian aman serta sejahtera.

"Ruwatan ini untuk menjauhkan dari malapateka dari berbagai hal baik di pemerintah dan bumi nusantara ini," imbuh Slamet Riyadi.

Prosesi ruwatan ini dimulai dengan acara doa, kemudian pentas wayang kulit yang mengambil judul Sri Mulih oleh dalang ruwat Kraton Surakarta Nyai Mas Ayu Kento Waksito Ajang Mas.

Usai pementasn wayang kulit yang berlangsung sekitar 3 jam lamanya dilanjutkan dengan peserta  disiram air kembang, memotong rambut dan kuku.

"Sebagai tanda membersihkan diri dan  mengeluarkan hal-hal yang sengkolo, agar  Tuhan YME memberikan keselamatan, kemuliaan dan rejeki melimpah," lanjutnya.

Selanjutnya setalah acara ruwatan selesai,  kain putih yang dipakai, rambut dan kuku para peserta yang mengikuti acara ruwatan akan di larung (dibuang)  di pantai selatan Parangkusumo Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY).

Ditambahkan Slamet, acara ruwatan ini sudah ke delapan kalinya digelar salah satu tujuannya untuk nguri-uri budaya Jawa. Terlebih lagi ini merupakan tradisi peninggalan sejak Kerajaan Pajang berdiri.

"Kami berupaya agar tradisi ini rutin digelar di situs peninggalan Kraton Pajang. Agan masyarakat tahu ini lo ada situs dari Kraton Pajang yang merupakan cikal bakal Solo dan Yogyakarta," pungkas Slamet.

Sementara itu setelah para peserta diruwat, juga dilakukan pelepasan burung dara sebagai simbol terlepasnya hal yang tidak baik. Dan setelahnya juga kembali digelar pementasan wayang kulit semalam suntuk di lokasi petilasan Kraton Pajang oleh dalang  Ki Krt Pahang Lebdo Diprojo dengan lakon Semar Mantu

 “Setelah ruwatan, malam harinya ada wayangan semalam suntuk. Ini semua untuk memperingati bulan suro,” pungkasnya.  (Yan)



Saat ini 0 komentar :