Malam Satu Suro Gunung Lawu Menjadi Tujuan Wisata Spiritual

Minggu, 01 September 2019 : 21.38
SOLO - Beragam tradisi unik digelar untuk menyambut tradisi tahun baru Islam 1 Muharram atau bulan Suro dalam penanggalan Jawa. Di wilayah Solo, tradisi malam satu Suro rutin digelar setiap tahunnya. Seperti di Kraton Kasunanan Surakarta dengan pesona Kebo Bulenya, dan  Pura Mangkunegaran dengan keheningan Tapa Mbisu keliling tembok Kraton juga Petilasan Kraton Pajang dengan ikon Songsong Agungnya. 

Namun di sisi timur wilayah Surakara, tepatnya di Kabupaten Karanganyar. Ritual saat  bulan Suro, ribuan masyarakat dari berbagai wilayah padati gunung Lawu. Gunung yang memiliki ketinggian 3.265 mdpl ini dipercaya sebagai salah satu poros atau sumber budaya Jawa.  Bukan hanya para pecinta alam yang mendaki puncak Lawu. Namun juga berbagai masyarakat atau pelaku ritual  dan penganut kepercayaan.

Cipto Subroto (65) warga Mojosongo mengatakan masyarakat Jawa mempercayai bahwa gunung Lawu sebagai salah satu lokasi yang mempunyai tingkat kesakralan dan daya magis yang tinggi sehingga sangat baik dipergunakan sebagai menyepi dan tempat olah kebatinan. 

Biasanya mereka menggelar ritual di  puncak gunung Lawu yakni di Hargo Dalem, atau Hargo Dumiling. Biasanya mereka mandi di salah satu sumber air di puncak Lawu yakni Sendang Drajad. Selain itu mereka akan bersemedi sambil membakar dupa dan menabur bunga di lokasi yang dianggap keramat misalkan pamoksan (tempat menghilangnya )Prabu Brawijaya V.

Bagi sebagian kalangan, jika melakukan ritual berdoa pada Yang Maha Kuasa  ke gunung Lawu pada saat bulan Suro agar diberikan keberkahan, ketentraman hidup, kesehatan keselamatan dan kebarokahan dalam menjalani kehidupan selama setahun ke depan.

"Tujuannya hanya satu untuk mendekatkan diri kepada Sang Maha Kuasa," paparnya.

Cipto  juga menjelaskan tradisi itu sudah ada sejak ratusan tahun lalu, bahkan dari Kraton Solo dan Ngayogyakarta juga melakukan ritual larung sesaji di puncak gunung Lawu. Dan mereka biasa melakukan ritual tersebut yang dinilai justru menambah tali silaturahmi. Karena bertemu banyak orang dari berbagai daerah dengan tujuan sama ke puncak Lawu. 

Saat perjalanan ke puncak, jadi banyak pengalaman baru, saling berbagi dan menolong sesama pendaki. Itu merupakan satu kebaikan di awal pergantian tahun baru 1 Muhharam. 

"Orang Jawa punya tradisi sendiri. Dan itu sudah turun temurun. Banyak masyarakat yang lakukan ritual doa ke puncak Lawu," jelas Cipto. 

Sebenarnya tujuan pendakian ke puncak Lawu bukan hanya untuk ritual saja namun juga untuk melihat keindahan puncak Lawu yang misterius. Karena hanya gunung Lawu yang memiliki tiga puncak.

"Keberkahan lain dalam tradisi memperingati malam 1 Suro di gunung Lawu ini adalah warga sekitar juga panen rejeki. Warung-warung makan  jadi penuh sesak oleh para pendaki," pungkasnya. 


Saat ini 0 komentar :