Tradisi Dukutan, Ritual Saling Lempar Sesaji Di Lereng Lawu

Rabu, 25 Juli 2018 : 22.40
Teraswisata- Tradisi turun temurun bersih desa di Dusun Nglurah, Kelurahan Tawangmangu, Kecamatan Tawangmangu, Kabupaten Karanganyar  masih terus terjaga kelestariannya sampai saat ini. Karena karifan lokal masyarakatnya membuat tradisi itu masih bertahan. 

Masyarakat menyebutnya upacara Dukutan, yang kini juga menjadi obyek wisata budaya di Karanganyar. Yang dilangsungkan setiap  wuku dukut. Yang dalam penanggalan  Jawa  jatuh pada hari Anggoro Kasih (Selasa Kliwon), tiap tujuh bulan sekali yang bertempat di sebuah candi yang bernama Candi Menggung.

Candi Menggung sendiri, merupakan salah satu situs peninggalan kuno yang di konon merupakan situs peninggalan Prabu Erlangga, Raja Daha (Kahuripan) yang juga dikisahkan  muksa di Gunung Lawu, jauh sebelum era Majapahit.   

Situs Menggung sendiri masih berupa banguna megalitikum yaitu punden berundak dan berada di  pertemuan dua sungai, tepatnya di Desa Tawangmangu, Dukuh Nglurah, Kecamatan Tawangmangu. Sejarahnya sendiri masih belum tebuka luas, namun situs Menggung sendiri dipercaya secara turun temurun merupakan peninggalan Prabu Erlangga.

Terdiri dari  tiga teras, dimana di teras pertama ada  empat arca dwarapala (gupala) yang menjaga tangga menuju teras kedua. Selain itu di teras ketiga ada sebuah pohon yang amat sangat besar dan diantara akarnya ada sebuah arca kecil yang sudah rusak.

Arca yang kecil disebut  Kyai Menggung dan arca yang paling tinggi dikenal dengan nama  Nyi Rasa Putih. Uniknya lagi di lokasi tersebut ada Yoni yang berbentuk bulat,  berbeda dengan yoni umumnya yang berbentuk persegi.

Tradisi upacara Dukutan (bersih desa) tersebut menggambarkan kisah kisah perseturuan antara Patih Naratama dari Kerajaan Kediri jaman Raja Erlangga dengan seorang wanita bernama Nyi Roso Putih, hingga akhirnya mereka dipersatukan sebagai pasangan suami isteri.

Menurut cerita,  Naratama berasal  Bali yang jadi pengikut Raja Erlangga. Dalam pengembaraannya untuk mendekatkan diri pada Yang Kuasa bertemu dengan Nyi Rasa Putih yang sakti. Keduanya sering berbeda pendapat hingga akhirnya timbul perkelahian antara dua desa.

Hingga akhirnya mereka disatukan dalam tali pernikahan dan waktu hari  pernikahan Kyai Menggung dan Nyi Rasa Putih yang jatuh pada Selasa Kliwon Wuku Dhukut dijadikan acara ritual Dukutan, berupa Tawuran Dukut dimana setelah aneka prosesi di Situs Menggung selesai, warga dari Dukuh Nglurah Lor dan Dukuh Nglurah Kidul saling lempar sesajen dari jagung yang ditumbuk halus, dimasak menjadi berbagai jenis makanan yan dan dimasak dengan api kayu bakar.

Uniknya saat mengolahnya tidak boleh dicicipi sebelum acara puncak acara berlangsung. Setelah ritual selesai maka semua kembali damai tanpa ada dendam.

Acara terakhir adalah diadakannya hiburan berupa wayang kulit semalam suntuk. Ketiga, bagi masyarakat setempat termasuk generasi muda, upacara Dhukutan dikategorikan sebagai peristiwa penting yang tidak boleh dilewatkan semua warga. Upacara itu diangap sebagai ungkapan rasa syukur dan permohonan keselamatan dan berkah. (dian)



Saat ini 0 komentar :