Tak Pernah Padam, Api Abadi Mrapen Dipercaya Sebagai Peninggalan Sunan Kalijogo

Minggu, 29 Juli 2018 : 23.21

Teraswisata.com - Seiring  pelaksanaan Asian Games 2018 di Indonesia nama Mrapen kembali menjadi perbincangan hangat.

Pasalnya api abadi asal Mrapen ini digabungkan dengan api abadi yang diambil dari India.

Selanjutnya  Api Obor Asian Games 2018  dibawa keliling di 54 kota dan kabupaten di 18 provinsi di Indonesia dengan menempuh jarak sekitar 18.000 kilometer.

Api abadi  yang dibawa diambil langsung dari sumber api abadi dari New Delhi, India, sebagai negara pertama penyelenggara Asian Games pada 1951.


Tepatnya di Stadion Nasional Dhyan Chand di New Delhi, tempat Asian Games pertama kali digelar di India digabungkan dengan api abadi asal Mrapen di Candi Prambanan Yogyakarta.

Lokasi asal api abadi Mrapen berada di  desa Manggarmas, kecamatan Godong, Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah. Berjarak kurang lebih 25 kilometer dari kota Purwodadi.

Api abadi Mrapen berasal dari peristiwa geologi alam. Dimana gas alam keluar dari dalam tanah dan mengeluarkan api yang tidak pernah padam meski hujan deras turun api itu tetap dalam kondisi menyala.

Sumber api Mrapen sedari dulu sudah digunakan baik untuk upacara keagamaan ataupun festival olah raga untuk penyalaan api obor. Untuk upacara keagamaan umat Budha seperti saat perayaan upacara hari raya Waisak.

Konon, berdasarkan kisah turun temurun, api abadi Mrapen berasal tongkat milik salah satu Wali Songo, yakni Sunan Kalijogo. Kala itu Sunan Kalijogo bersama rombongan sedang perjalanan menuju Demak.

Namun karena lelah mereka memilih beristirahat sejenak. Namun karena tidak ada sumber mata air di situ, Sunan Kalijogo lalu berdoa memohon kepada Allah SWT agar diberikan sumber air.
Atas kehendak Yang Maha Kuasa tongkat milik Sunan Kalijogo ini lantas ditancapkan di dalam tanah. 

Namun yang keluar bukanlah air, justru yang keluar adalah api. Dan api tersebut tidak pernah padam hingga akhirnya lokasu tersebut diberi nama Mrapen.

Selanjutnya Sunan Kalijogo melakukan hal yang sama di lokasi lain, maka saat itu barulah keluar mata air jernih yang digunakan untuk menghilangkan haus Sunan Kalijogo dan rombongannya.

Saat ini sumber mata air itu masih terjaga dan lokasinya berada tidak jauh dari api abadi Mrapen. Uniknya air tersebut seperti mendidih namun tidak panas. Anehnya lagi meski terlihat keruh, namun saat dimasukkan dalam gelas airnya terlihat jernih.

Masyarakat sekitar menyebut sumber mata air tersebut dikenal dengan nama Sendang Dudo. Sendang ini dipercaya dapat mengobati penyakit kulit dan reumatik.

Peninggalan dari Sunan Kalijogo yang masih tersisa lainnya adalah Watu Bobot yang diperkirakan dari abad ke 15. Beratnya hanya sekitar 20 kilogram.
Namun tidak sembarang orang bisa mengangkatnya.

Konon bagi siapa saja yang berhasil mengangkatnya, atas ijin Allah SWT akan terkabul hajat atau keinginannya.

Sejarah lain juga mencatat saat pelaksanaan pembukaan Pesta Olahraga Negara-Negara Berkembang atau Games of the New Emerging Forces (Ganefo) I pada bulan  November 1963, api untuk obor juga diambil di  Mrapen.

Demikian juga dengan Pekan Olahraga Nasional (PON) mulai PON X tahun 1981, POR PWI tahun 1983 dan HAORNAS. 
Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Republik Indonesia, Puan Maharani, sampaikan sebagai salah satu sumber api abadi  Mrapen menyimpan nilai historis yang tinggi.

"Api abadi Mrapen menjadi langganan pengambilan api obor beberapa agenda nasional dan internasional saat era Presiden Soekarno bahkan sampai saat ini," ucap Puan belum lama ini. (Dian)

Saat ini 0 komentar :