Bingung Cari Tempat Kongkow Saat Lebaran? Yuks Mampir di Angkringan Mbah Loso Nikmati Sajian Teh Berusia 50 Tahun

Rabu, 23 Mei 2018 : 23.53
KARANGANYAR - Jika berwisata ke daerah yang terletak dibawah lereng Gunung Lawu, tepatnya di Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah jangan lupa untuk mampir ke angkringan yang satu ini.

Sepintas, angkringan yang terletak di tengah kota, tepatnya di Jalan Lawu Karanganyar ini tak jauh berbeda dengan angkringan di Kota Solo. Namun, jangan salah dengan angkringan yang satu ini. Sekali anda mampir ke angkringan yang sudah beroperasi selama 60 tahun ini, dijamin anda akan ketagihan.

Tak heran, angkringan biasa disebut warga lereng Gunung Lawu ini "angkringan Mbah Loso" tak pernah sepi dari para pembeli. Bahkan, para pembeli ini pun sampai rela meski harus menunggu adanya tempat yang kosong untuk mereka menikmati seduhan teh yang diracik oleh mbah Loso yang sudah berusia diatas 70 tahun.

Suasana riuh yang biasanya memenuhi ruangan berukuran kecil di dekat Buk Siwaluh Karanganyar Kota berangsur sepi. Hanya tinggal beberapa rombongan saja yang masih asyik dengan obrolannya di luar ruang.

Sebelum pindah ke lokasi baru, mbah Loso berjualan di dekat kelurahan Cangakan, Karanganyar Kota. Namun karena warung yang ditempatinya di renovasi dan harga sewanya naik, Mbah Loso pindah di dekat rumah pribadinya di dekat Buk Siwaluh, Karanganyar.

Di dalam ruangan yang sedikit sempit nampak seorang wanita yang sudah lanjut usia nampak duduk di belakang angkringan dengan beralaskan bantalan di bawahnya.

Wanita itu adalah mbah Widji, namun orang lebih mengenalnya dengan nama Mbah Loso, nama yang di sandang almarhum suaminya yang sudah meninggal beberapa tahun lalu. Pemilik angkringan tertua di wilayah Karanganyar yang usahanya sudah berusia lebih dari 60 tahun.

Tak heran bila langganan angkringan ini mulai dari kalangan pejabat, politisi, polisi, pengusaha hingga masyarakat biasa bisa berkumpul di angkringan Mbah Loso tanpa mengenal status.

Bahkan saat Pemilu tiba warung ini ramai dengan atribut partai, bahkan banyak juga yang melakukan sosialisasi di sini. Baragam informasi bisa di peroleh di sini. Mulai dari informasi yang ringan hingga obrolan berat yang ada di masyarakat.

Angkringan legendaris Mbah Loso, banyak lahirkan politikus dan pemikir handal di lereng Lawu. Banyak hal yang terlahir dari pemikiran saat merasakan nikmatnya teh seduhan mbah Loso.

Minuman teh adalah andalan dan menjadi primadona di warung Mbah Loso. Campuran teh di warung mbah Loso sama seperti teh yang ada di warung lainnya. Namun teh racikan tangan tua mbah Loso itu yang membedakannya.

Pelanggan setianya datang dari mana saja, dan sampai saat ini tidak pernah mengeluh rasa tehnya berbeda. Tetap sama sejak puluhan tahun lalu. Para pelanggan setianya rela antri berdesakan untuk sekedar mencicipi segelas teh ginasthel (legi, panas, kenthel) ala Mbah Loso.

Berasal dari Pedan, Klaten Mbah Loso mencari nafkah sampai ke Karanganyar dan akhirnya bertemu dengan Mbah Widji yang akhirnya menjadi patner hidupnya membesarkan warung wedangnya hingga bertahan sampai saat ini.

Meski bermunculan angkringan lain dengan konsep beragam, namun wedangan Mbah Loso tetap memiliki pelanggan setia yang tidak pernah ada habisnya. Mbah Widji, menceritakan kisah perjuangannya membuka usaha wedangan hingga bisa bertahan lebih dari 50 tahun lamanya.

Berawal dari menjajakan heknya dengan berkeliling memanggul angkringan ke stanplat (nama terminal jaman dulu di Karanganyar) untuk berjualan. Angkringanya memiliki nilai sajarah yang tinggi.

"Yang saya ingat sampai saat ini Mbah kakung selalu berpesan untuk selalu menjaga angkringan ini (tempat pikulan). 'Angkringan iki pancen elek. Ora nyugihi tapi iso nguripi. Yen nyugihi kui ora bakalan cukup, tapi yen nguripi bakalan cukup' (Angkringan ini jelek, tidak membuat kaya tapi bisa untuk menghidupi. Sugih kui ora bakalan cukup, tapi kalau menghidupi akan merasakan kecukupan)," ucap Mbah saat ditemui belum lama ini.

Ada kejadin yang tak terlupakan saat kejadian tahun 1965 sedang memanas. Saat itu tentara Resimen Para Komando Angkatan Darat (RPKAD) yang bertugas sudah memerintahkan toko dan warung di seputar Karanganyar untuk tutup dan memberlakukan jam malam. Dan saat itu angkringan mbah Loso berada di pasar Pahing tidak jauh dari alun-alun Karanganyar.

Saat itu jelas Mbah Widji, ketika di datangi petugas dan menyuruh untuk tutup dengan sedikit rasa takut Mbah kakung menjawab, "nek kula tutup mboten dodolan sing ngopeni pak tentara sinten," jelas Mbah Wiji meniru ucapan suaminya.

Sampai saat ini Mbah Loso masih mempertahankan tempat angkring (pikulan) untuk berjualan. Selain itu ada juga keunikan lainnya. Tempat untuk menyimpan teh milik Mbah Loso bukanya toplesa atau tempat lainnya. Namun teh tersebut di simpan di dalam kaleng yang usianya sama dengan usahannya.

"Kaleng niku enten sejarahe. Mpun ngancani wiwit buka usaha. Umure mpun punjul seket tahun. Riyine bekas kaleng cet, kalih mbah kakung di gegeg nganti resik ngangge pasir. (Kaleng itu ada sejarahnya. Menemani sejak pertama kali buka usaha, lebih dari 50 tahun. Dulu bekas kaleng cet yang dicuci dengan pasir)," jelas Mbah Loso saat di tanya sejarah kaleng berwarna hitam yang sedang di pegangnya.

Mbah Loso juga membeberkan resep kesehatan dan umur panjang yang dianugrahkan kepadanya, sehingga sampai saat ini masih bisa melayani pelanggannya. Kuncinya adalah seneng hatinya dan tidak macam-macam.

"Yen atine seneng, ajeng napa-napa niku enak," ungkap Mbah Loso. Saat ini dibantu putri sulungnya Mbak Surati tetap setia melayani pelanggan setianya. Namun setiap pelanggan yang datang pasti meminta teh yang di racik langsung oleh tangan Mbah Loso.

Sebab itulah di dekat angkring Mbah Loso disediakan bantal untuk Mbak Loso istirahat sejenak dengan tiduran di bangku tersebut. Menurut Mbak Surati, pelanggan maunya teh buatan simbah. Mereka rela menunggu sampai istirahat simbah selesai.

Meski sebelum istirahat simpah sudah menyediakan stok beberapa gelas yang sudah diracik dan nantinya tinggal di tambah air panas yang dimasak dengan arang. Air yang digunakan juga air sumur bukan PAM.

"Maunya pembeli simbah yang bikin tehnya. Kadang saat simbah istirahat sekitar 15-30 menit mereka mau nunggu. Minum apa yang ada dulu. Kalau simbah bangun ya pesen lagi, jelasnya. (dian)

Saat ini 0 komentar :