Cerita Misteri Dibalik Keindahan Gunung Lawu

Minggu, 19 Juli 2020 : 13.59
KARANGANYAR - Keindahan Gunung Lawu yang terletak di perbatasan Jawa Tengah dan Jawa Timur ini menggoda siapapun untuk datang.

Tak heran, dari data yang tercatat di Dinas Pariwisata Pemuda dan Olahraga, jumlah pendaki yang naik ke puncak Gunung Lawu, terutama dari jalur Candi Cetho, mencapai 13 ribu lebih orang pendaki.

Sedangkan dari jalur Cemoro Kandang, jumlah pendaki yang naik mencapai 4000 orang pendaki.

Namun siap yang mengira, dibalik keindahan Gunung yang dahulu bernama Wukir Mahendra banyaknya kisah misteri terselubung di gunung yang dijuluki Gunung seribu satu kisah ini.

Termasuk jalur Cetho yang ternyata bila diibaratkan rumah, Gunung yang  dijuluki pakunya pulau Jawa ini merupakan bagian depan atau pintu masuk ke Gunung Lawu.

Meski banyak pendaki lebih suka naik kepuncak melalui jalur ini, namun jalur yang melintasi Candi Centho ini memiliki medan cukup sulit dibandingkan jalur Cemoro Kandang dan Cemoro Sewu.

Sesepuh Desa Girimulyo, Ngargoyoso,  Karanganyar, Polet atau biasa disapa Mbah PO mengatakan Cemoro Kandang atau Cemoro Sewu itu bukan pintu masuk kedalam rumah.

Tapi, Cemoro Kandang dan Cemoro Sewu itu bagian belakang atau bagian dapur dari sebuah rumah itu. Pintu masuk utama ke Gunung Lawu itu diatas Candi.

Menurut Mbah PO, bagi masyarakat Karanganyar maupun yang sering melakukan spiritual di Gunung Lawu, mereka mempercayai bila Gunung Lawu itu merupakan sebuah kerajaan besar yang pernah ada.

Tak heran bila para pendaki naik ke Gunung Lawu melalui jalur Candi Cetho, akan menemukan hal-hal gaib. Wajar bila jalur Cetho merupakan jalur yang paling ditakuti.

"Bila lengah sedikit saja, bisa terjatuh kedalam jurang,"jelas Mbah PO, mengawali cerita pada teraswisata.com, Minggu (19/7/2020).

Tak hanya medan yang sulit, jalur pendakian melalui Candi Cetho ini paling sering terkena kabut.

Pasalnya jalur Candi cetho ini lebih didominasi cekungan-cekungan. Bila baru pertama kali mendaki melalui jalur ini, sudah dipastikan pendaki tersebut akan tersesat.

Selain memiliki medan yang sangat sulit, jalur pendakian Gunung Lawu
melalui candi Cetho ini, banyak dipercaya sebagai jalur perlintasan ke
alam gaib. Tak heran bila melalui jalur ini, para pendaki sudah dihadapkan dengan hal-hal aneh.

Termasuk para pendaki akan melalui sebuah lokasi dilereng Gunung Lawu yang diyakini merupakan keberadaan dari pasar setan.

Bagi yang sering mendaki ke puncak Gunung Lawu, tentu sudah tak asing mendengar nama pasar setan. Dimana konon ditempat itu sering terdengar suara bising layaknya sebuah pasar.

Terkadang, para pendaki itu sendiri akan mendengar suara yang seakan menawari untuk berbelanja. Konon bila mendengar suara tersebut, para pendaki harus membuang apa saja dilokasi tersebut layaknya transaksi jual beli dipasar.

"Sebenarnya yang disebut para pendaki itu sebagai pasar setan, sebenarnya itu sebuah lahan di lereng Gunung Lawu yang penuh dengan ilalang dan angin yang berhembus di sana cukup kencag. Jadi akibat tiupan angin, menimbulkan suara-suara seperti orang bertransaksi,"terangnya.

Tak hanya itu saja, banyak yang menduga Kalau Gunung Lawu ini masuk katagori Gunung tidak aktif.

Namun sebenarnya Gunung Lawu masuk dalam kategori 'gunung tidur'. Dan Gunung Lawu masuk deretan lima besar dari tujuh Gunung dengan puncak tertinggi di Pulau Jawa. Tak heran bila Gunung Lawu dijuluki Seven Summits of Java (Tujuh Puncak Pulau Jawa).

"Sampai saat ini jati diri (Misteri) Gunung Lawu belum terungkap. Contoh yang paling nyata sampai sekarang tidak pernah ditemukan kuburan eyang Lawu & Sunan Lawu,"jelasnya.

Selain kental dengan aura mistik, gunung Lawu tetap menjadi primadona
bagi para pendaki. Bahkan gunung Lawu terkenal dengan penunggu sekaligus penunjuk jalan seekor burung misterius, bernama Kyai Jalak Lawu.

Konon Kyai Jalak adalah salah satu jelmaan dari abdi dalem setia Prabu Brawijaya V yang bertugas untuk menjaga Gunung Lawu.

Biasanya burung jalak Lawu berwarna hitam. Namun khusus burung misterius yang terkenal dengan nama Kyai Jalak ini berwarna gading.

Sayangnya sangat sulit sekali menemukan atau bertemu dengan Jalak Lawu ini. Jalak Lawu ini akan muncul dihadapan pendaki yang tersesat. Karena bagi para pendaki bertemu dengan Jalak Lawu, pantangan untuk diganggu.

"Namun jika berniat baik, kyai Jalak akan mengantar pendaki sampai ke Puncak Gunung Lawu. Kyai Jalak bertemu  para pendaki, bukan untuk mencelakai, namun sebagian dari tugasnya  menjaga dan menjadi penunjuk jalan bagi para pendaki," terangnya.

Selain Kyai Jalak sebagai penunjuk jalan, kadang kala juga muncul kupu-kupu berwarna hitam, namun di tengah kedua sayapnya terdapat bulatan besar berwarna biru mengkilap.

"Katanya jika melakukan pendakian, melihat kupu-kupu dengan ciri seperti itu adalah pertanda bahwa  kehadiran pendaki  disambut baik (diijinkan) oleh penjaga Gunung Lawu.  Jangan pernah  menganggu, mengusir dan membunuhnya," ungkapnya.

Dan yang paling penting adalah pantangan mengenakan baju berwarna hijau daun, dan dilarang mendaki puncak lawu dengan rombongan yang berjumlah ganjil.

“Jangan naik puncak jika jumlah pendakinya ganjil,takutnya nanti akan tertimpa kesialan. Satu hal lagi yang harus diingat, jika tiba-tiba ada  ampak-ampak (kabut dingin) yang di barengi suara gemuruh, jangan nekat naik.  Turun saja atau berbaring tertelungkup di tanah," pesannya.

Gunung Lawu juga menyimpan misteri pada tiga puncaknya dan menjadi tempat yang dianggap sakral di Tanah Jawa. Harga Dalem diyakini sebagai tempat pamoksan (menghilangnya) Prabu Brawijaya,

Harga Dumiling diceritakan sebagai tempat pamoksan Ki Sabdopalon yang merupakan abdi setia dari Prabu Brawijaya, dan Harga Dumilah merupakan tempat yang meditasi pagi penganut kejawen.

Sebab itulah gunung yang juga merupakan salah satu poros di pulau Jawa ini dipercaya persinggahan Brawijaya V yang merupakan Raja Majapahit terakhir yang akhirnya menghilang bersama raganya alias muksa.

Bagi para pendaki, keangkeran Gunung Lawu sudah makanan setiap hari. Para relawan ini sangat akrab dengan keangkeran.

Tak heran banyak para pendaki Gunung Lawu yang tiba-tiba kesurupan. Bahkan para relawan pun sering diganggu saat melakukan operasi penyelamatan.

"Gangguan saat evakuasi pendaki sakit. Pada saat kita memikul survivor pakai tandu serasa ada yg bonceng jadi terasa sangat berat. Dan tim
kami sering melihat sosok makhluk halus perempuan,"papar Rifan salah satu relawan dari Karanganyar Emergency. (Dia/Sus)
Share this Article

Saat ini 0 komentar :