Ini Tradisi Unik Kraton Solo Sambut Malam Seribu Bulan

Minggu, 26 Mei 2019 : 02.00
TERAS WISATA -  Lembaga Dewan Adat Kraton Kasunanan Surakarta Hadingrat (LDA)  menggelar acara malam Selikuran dengan Kirab lampion dan seribu nasi tumpeng dengan mengelilingi kompleks Keraton Surakarta, Sabtu (25/5) malam.

Acara malam Selikuran ini digelar dua kali di waktu yang sama. Kirab malam selikuran yang pertama digelar oleh Bebadan Keraton Surakarta versi Paku Buwono (PB) XIII Hangabeh usia Sholat Isa dan Tawarih. Setelahnya  dari Lembaga Dewan Adat menggelar acara serupa.

Yang membedakan dari acara Kirab Malam Selikuran ini adalah rute yang ditempuh. Untuk Bebadan Keraton Surakarta versi Paku Buwono (PB) XIII Hangabehi dengan rute Kori Kamendungan langsung menuju Masjid Agung. Sedangkan dari Lembaga Dewan Adat (LDA)  dimulai dari Siti Hinggil kemudian mengelilingi kawasan Baluwarti dan berakhir di Masjid Agung Surakarta.

Kegiatan adat tersebut diikuti semua abdi ndalem serta keluarga besar keturunan raja-raja Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat dengan rute  kirab dari Sitihinggil kemudian berjalan kaki searah jarum jam melewati pintu Brojonolo, dan selanjutnya memasuki kawasan Baluwarti didalam tembok keraton hingga berakhir di Masjid Agung barat Alun - Alun Utara.

Gusti Kanjeng Ratu (GKR) Koes Murtiyah Wandansari akrab disapa Gusti Mung Ketua Lembaga Dewan Adat (LDA) Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat menyampaikan, kirab malam selikuran merupakan salah satu upacara adat yang sudah berlangsung turun temurun dinasti Mataram sejak lama untuk menyambut   datangnya malam Lailatul Qadar.

"Alhamdulillah, semua  sentana, abdi dalem trah dari Eyang Amangkurat I sampai Sinuwun PB XIII telah mengadakan wilujengan menyongsong datangnya Lailatul Qadar," jelas Gusti Moeng. 

Gusti Moeng juga  adanya dua agenda pelaksanaan  Malam Selikuran dari Kraton Solo menurutnya bukan masalah besar. Kedepannya diharapkan seluruh trah dinasti Mataram bisa menggelarnya bersama-sama.

"Semakin banyak yang mangayubagyo semakin bagus to. Wong tujuannya agar keberadaan Kraton dan budayanya tetap lestari," imbuhnya.

Kedepannya Gusti Moeng berharap semua pihak bisa kembali menyatu dan kebersamaan keluarga Keraton Solo seperti dahulu kala. Menjalankan apa yang menjadi kehendak leluhur untuk melestarikan keraton sampai akhir zaman.

Untuk urutan dalam prosesi kirab hajad dalem Malem Selikuran, lanjut Gusti Moeng juga diikuti Pakasa dari berbagai daerah. Kemudian ada barisan marching band Kraton,  pembawa Ting (lentera), tumpeng sewu, santiswara, dan musik Hadrah dari Baluwarti (dia)

Saat ini 0 komentar :