Kahyangan, Lokasi Wisata Spiritual, Petilasan Raja Mataram

Kamis, 12 Juli 2018 : 21.11
WONOGIRI - Berbalut kisah misteri dan dikenal wingit (angker) oleh masyarakat setempat, sebuah situs sejarah yang berada di bagian timur Kabupaten Wonogiri ini justu menjadi salah satu lokasi wisata religi yang ramai dikunjungi masyarakat.

Terutama malam Jumat Kliwon ataupun malam Satu Suro dalam kalender Jawa. Terletak sekitar 50 kilometer dari pusat kota Wonogiri berada di dusun Ndlepih, Kecamatan Tirtomoyo.

Suasananya masih hijau dan juga asri. Kahyangan, oleh masyarakat setempat khususnya dipercaya sebagai petilasan Danang Sutowijoyo (kelak bergelar Panembahan Senopati) raja Mataram untuk melakukan tirakat mencari wahyu kedaton.

Ada satu lokasi di Kahyangan yang dipercaya tempat petilasan Panembahan Senopati yang disebut Selo bethek, batu yang di pagari dengan anyaman bambu (bethek).

Selo Bethek merupakan petilasan Panembahan Senopati ketika pertama kali mengawali semedinya saat tiba di Kahyangan. Batu besar tersebut sempat menjadi lokasi bertapa Panembahan Senopati.

Kemudian ada lokasi Selo Payung, sebuah batu yang di bagian atasnya melebar menyerupai payung. Masyarakat meyakini petilasan Selo Payung adalah tempat Raja pertama kesultanan Mataram, Danang Sutawijaya yang saat naik tahta bergelar Panembahan Senopati ing Alaga Sayidin Panatagama Khalifatullah ini juga lokasi semedi.

Kemudian ada petilasan Selo Gapit atau Penangkep berupa dua buah batu besar yang pada bagian atasnya saling bersentuhan mirip gapura.

Dianggap sakralkan, maka tempat ini sering dimanfaatkan orang untuk meditasi dan ngalab berkah pada malam Selasa Kliwon juga Jumat Kliwon. Terlebih di malam menjelang pergantian tahun Jawa (bulan Suro).

Banyak pendatang dari luar daerah, terutama dari daerah Yogyakarta dan Surakarta, bertirakatan di sana. Di tempat inilah para pengunjung melakukan meditasi atau sekedar beristirahat sambil merenung dan mencari inspirasi. Dikelilingi suara gemericik air dan hijaunya pepohonan.

Disarankan bagi para pengunjung yang datang ke Kahyangan sesuai dengan kepercayaan masyarakat setempat untuk tidak mengenakan baju berwarna hijau pupus dan kain bermotif parangklitik.

Lokasi wisata spiritual Kahyangan ini kini juga dilengkapi dengan sarana ibadah, toilet dan tempat pembelian aneka souvenir berupan benda-benda dari kayu, batu mulia (akik) dan benda lainnya. (Dian)

Saat ini 0 komentar :